Usul ke Presiden: Program MBG Sarat Masalah, Wali Murid Dinilai Lebih Baik Terima Bantuan Tunai

Penulis :Teguh santoso 

Editor    :kakung


Ganesa post--Tulungagung – Program Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat mulai menuai sorotan. Sejumlah kalangan menilai program tersebut masih menyisakan banyak persoalan teknis, mulai dari distribusi hingga kualitas layanan.

Kasus keracunan siswa sekolah yang diduga pasca konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) terus terjadi di beberapa daerah sejak program unggulan Presiden RI Prabowo Subianto itu dimulai secara resmi 6 Januari 2025.

Organisasi pemerhati pendidikan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mendata setidaknya ada lebih dari lima ribu anak mengalami keracunan usai konsumsi MBG hingga September 2025.


Menurut beberapa wali murid, implementasi MBG di lapangan sering terkendala. Ada yang mengeluhkan keterlambatan penyediaan makanan, kualitas gizi yang tidak sesuai, hingga biaya distribusi yang justru membebani sekolah.

“Kalau memang tujuannya membantu anak-anak agar sehat dan bergizi, lebih baik diberikan dalam bentuk uang tunai langsung ke wali murid. Jadi orang tua bisa mengatur sendiri kebutuhan gizi anaknya sesuai kondisi keluarga,” ungkap salah satu wali murid, Sabtu (20/9).

Usulan ini juga didukung sebagian tokoh masyarakat yang menilai pemberian bantuan tunai akan lebih transparan dan mengurangi potensi penyalahgunaan anggaran. Selain itu, orang tua dapat menyesuaikan belanja dengan kebutuhan anak, misalnya membeli susu, buah, atau lauk pauk segar.

Meski demikian, pemerintah pusat sebelumnya menegaskan bahwa program MBG bertujuan memastikan anak didik mendapat asupan gizi secara langsung di sekolah. Namun, kritik dan masukan dari masyarakat disebut akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan kebijakan ke depan.


Komentar